Kamis, 27 Juni 2013

Nutrisi dan Transportasi Tanaman




Tanaman atau tumbuhan membutuhkan nutrisi untuk keberlangsungan hidupnya. Pada dasarnya yang dibutuhkan oleh tanaman adalah nitrogen, hydrogen, karbon, oksigen, fosfor dan sulfur. Maka untuk menghasilkan nutrisi tanaman melakukan fotosintesis. Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya. Bagian tumbuhan hijau yang berfungsi menyerap cahaya matahari adalah klorofil yang terdapat didalam kloroplast. Didalam kloroplast terdapat zat warna atau pigmen yang berfungsi menangkap energi yang tidak dapat ditangkap oleh klorofil. Klorofil banyak terdapat pada jaringan tiang (palisade) dengan demikian fotosintesis berlangsung terutama dijaringan tiang. Meskipun seluruh bagian tubuh tumbuhan yang berwarna hijau mengandung klorplast, namun sebagian besar energi dihasilkan di daun. Di dalam daun terdapat lapisan sel yang disebut mesofit yang mengandung setengah juta kloroplast setiap millimeter perseginya. Cahaya akan melewati lapisan epidermis tanpa warna dan transparan, menuju mesofit, tempat terjadinya sebagian proses fotosintesis. Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 difiksasi menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri belerang. Fotosintesis pada tumbuhan yang bersifat autotrof. Autotrof artinya dapat mensintesis makanan langsung dari senyawa anorganik. Tumbuhan menggunakan karbon dioksida dan air untuk menghasilkan gula dan oksigen yang diperlukan sebagai makanannya. Glukosa dapat digunakan untuk membentuk senyawa organik lain seperti selulosa dan dapat pula digunakan sebagai bahan akar. Proses ini berlangsung melalui respirasi seluler yang terjadi baik pada hewan maupun tumbuhan. Pada respirasi, glukosa dan senyawa lain bereaksi dengan oksigen untuk menghasilkan karbon dioksida, air dan energi kimia.

Pupuk Anorganik


1.    Pupuk dalam arti luas diklasifikasikan menjadi tujuh, diantaranya berdasarkan :
a.    Asal yang terbagi menjadi pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam adalah pupuk yang terdapat di alam atau dibuat dengan bahan alam tanpa proses yang berarti. Misalnya, pupuk kompos, pupuk kandang, guano, pupuk hijau dan pupuk batuan P. Sedangkan pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam melalui proses fisika dan atau kimia. sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi. Misalnya, TSP, urea, rustika, dan nitrophoska.
b.    Senyawa terdiri dari pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berupa senyawa organik. Sebagian besar pupuk alam tergolong pupuk organik, misalnya pupuk kandang, kompos, dan guano. Pupuk alam yang tidak termasuk pupuk organik adalah rock phosphat, yang umumnya berasal dari batuan sejenis apatit [Ca3(PO4)2]-. Sedangkan pupuk anorganik adalah pupuk dari senyawa anorganik dan hampir semua pupuk buatan tergolong pupuk anorganik.
c.    Fasa terbagi menjadi pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk cair yaitu pupuk berupa cairan yang cara penggunaannya dilarutkan terlebih dahulu dengan air. Pupuk cair ini hanya dibedakan atas kekentalan atau konsentrasinya yang berkaitan dengan kadar unsure yang dikandungnya. Sedangkan pupuk padat yaitu pupuk yang umumnya mempunyai kelarutan beragam mulai yang mudah larut air sampai yang sukar larut air. Bila diperinci pupuk padat dapat terdiri dari bermacam-macam bentuk, seperti serbuk, butiran, tablet dan kapsul.
d.  Cara penggunaan pupuk digolongkan menjadi pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar merupakan pupuk yang diberikan lewat tanah sehingga dapat diserap oleh akar tanaman. Sedangkan pupuk daun merupakan pupuk yang diberikan pada daun dengan cara disemprotkan pada permukaan daun. Sebelum digunakan pupuk daun ini terlebih dulu dilarutkan didalam air.
e.    Reaksi fisiologis pupuk terdiri dari reaksi asam dan reaksi basa yang hubungannya dengan pH tanah. Pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis asam, yakni pupuk yang bila diberikan ke dalam tanah ada kecenderungan tanah menjadi lebih asam (pH menjadi lebih rendah). Misalnya: ZA dan Urea. Sedangkan pupuk yang mempunyai reaksi fisiologis basa, yakni pupuk yang bila diberikan ke dalam tanah menyebabkan pH tanah cenderung naik, misalnya pupuk chili salpeter, calnitro, dan kalsium sianida
f.     Jumlah hara yang dikandung pupuk ada yang tunggal dan majemuk. Pupuk tunggal merupakan pupuk yang hanya mengandung satu unsur hara, seperti pupuk urea yang hanya mengandung Nitrogen atau N. Sedangkan pupuk majemuk merupakan pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara, misalnya, NPK, amophoska, nitrophoska, dan rustika.
g.    Macam hara tanaman terdiri dari hara makro, mikro dan campuran makro dan mikro. Pupuk makro adalah pupuk yang mengandung hara makro saja dan dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang relatif besar, misalnya NPK, nitrophoska, dan gandasil. Pupuk mikro, yakni pupuk yang hanya mengandung hara mikro saja dan dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah yang relatif sangat kecil, misalnya mikrovet, mikroplek, dan metalik. Campuran makro dan mikro, misalnya pupuk gandasil, bayfolan, dan rustika. Dalam penggunaannya, kedua jenis pupuk ini sering dicampur dan ditambahkan zat pengatur tumbuh (hormon tumbuh).

2.    Pupuk buatan kalsium adalah pupuk yang digunakan untuk memperbaiki pH tanah sehingga tidak terlalu asam, seperti pupuk Ca dan Mg atau lazim disebut dengan kapur pertanian, contohnya dolomit dan kalsit. Kapur pertanian mengandung Ca dan Mg dalam bentuk CaCO3 dan MgCO3. Kedua senyawa ini didapati pada kapur pertanian dengan perbandingan yang berlainan. Bila Ca lebih dominan disebut kalsit, sedangkan Mg lebih dominan dinamakan dolomit.


Tabel kandungan Ca berbagai macam pupuk

Kalsium memiliki peranan yang erat dalam pertumbuhan apical dan pembentukan bunga (Tisdale, 1985). Selain itu, Ca juga berfungsi dalam pembelahan sel, pengaturan permeabilitas sel serta pengaturan tata air dalam sel bersama dengan unsur K, perkecambahan biji, perkembangan benang sari, perkembangan bintik akar rhizobium. Tetapi Ca relatif kurang berperan mengaktifkan kerja enzim.  Dalam pengaturan permeabilitas sel, unsur K mempertinggi permeabilitas. Sebaliknya, Ca akan menurunkannya. Dengan demikian, K dan Ca mempunyai peranan mengatur permeabilitas sel. Kalium memperbanyak penyerapan air ke dalam sel, sebaliknya Ca mempertinggi pengeluaran air dari sel sehingga mempertinggi traspirasi. Penggelembungan sel yang mengakibatkan tanaman terlalu banyak menyerap K dapat diimbangi dengan pemberian Ca ke dalam tanah.

3.    Pupuk organik adalah pupuk dengan bahan baku utama sisa makhluk hidup, seperti darah, tulang, kotoran, bulu, sisa tumbuhan, atau limbah rumah tangga, yang telah mengalami proses pembusukan oleh mikroorganisme pengurai sehingga warna, rupa, tekstur dan kadar airnya tidak serupa dengan bahan aslinya. Hasil pembusukan tersebut menjadi senyawa atau unsur anorganik yang menjadi unsur hara tanaman. Sedangkan pupuk buatan adalah pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan mengubah sumber daya alam melalui proses fisika dan atau kimia. sehingga memiliki persentase kandungan hara yang tinggi.

4.    Tidak semua jenis pupuk dapat dicampurkan satu sama lain, namun ada beberapa jenis pupuk yang dapat dicampur dengan beberapa jenis pupuk lain. Contohnya urea dapat dicampur dengan urea, ZK, SP-36 dan MOP. Sedangkan urea yang dapat dicampur segera sebelum digunakan yaitu dengan pupuk ZA dan Dolomit. Kemudian pupuk urea yang tidak dapat dicampur adalah dengan RP dan Kieserite. Hal tersebut, karena ada beberapa jenis pupuk apabila dicampur akan mengalami proses seperti:
ü  Campuran mempunyai higroskopisitas tinggi yang menyebabkan terjadinya penggumpalan sehingga sukar digunakan atau ditabur.
ü  Campuran kehilangan kandungan haranya (N menguap sebagai NH3).
ü  Terbentuk senyawa baru, sehingga hara menjadi tidak tersedia bagi tanaman (P membatu).


Pupuk Organik



1.    Salah satu manfaat dari penggunaan pupuk organik adalah memperbaiki atau mengubah struktur tanah menjadi lebih baik sehingga pertumbuhan akar tanaman lebih baik pula. Saat pupuk dimasukkan ke dalam tanah, bahan organik pada pupuk akan dirombak oleh mikroorganisme pengurai menjadi senyawa anorganik yang mengisi ruang pori tanah sehingga tanah menjadi gembur. Maka dari itu pupuk organik bertindak sebagai perekat sehingga struktur tanah menjadi lebih stabil, khususnya untuk tanah ringan. Namun,  untuk tanah berat pengaruh pupuk organik pada struktur tanah hanya bersifat sementara karena pada tanah berat produk penguraian bahan organik akan mengurangi ikatan bagian dari tanah liat antara satu dengan yang lainnya, akibatnya struktur gumpalan tanah menjadi kurang kuat, sehingga menjadi mudah lepas pada waktu pengolahan tanah. Selain itu, struktur tanah dapat menjadi rusak karena pengaruh air hujan, pH tanah dan alat berat yang digunakan untuk menggali tanah.

2.    Kotoran hewan, seperti sapi, kerbau, kelinci, ayam dan kuda yang langsung diberikan pada tanaman atau tanpa proses dekomposisi akan mempengaruhi proses penyerapan unsur hara oleh tanaman, karena kotoran hewan yang tidak melalui proses dekomposisis akan sulit diserap oleh tanaman. Selain itu, pupuk yang masih masak akn menyebabkan tanaman terkena penyakit yang disebabkan oleh fungi yang terdapat pada kotoran hewan, juga pupuk yang belum masak bersifat panas akan membuat tanaman menjadi layu dan akhirnya mati. Maka sebagian besar kotoran hewan yang dapat dipergunakan untuk pupuk adalah yang telah mengalami pembusukan yang cukup, yaitu bila secara fisik, seperti warna, rupa, tekstur dan kadar airnya tidak serupa dengan bahan aslinya. Secara kimia bahan pembentuk juga telah terurai menjadi senyawa sedarhana yang mudah diserap tanaman.

3.    Semakin banyaknya udara yang masuk saat proses dekomposisi pupuk organik maka akan semakin banyak NH3 yang menghilang karena NH3 itu sendiri bersifat higroskopis atau mudah diserap oleh udara. Maka pada waktu penguraian pupuk dalam kondisi aerob berlangsung pula mineralisasi yang kuat dari bahan organik yang menghasilkan bentuk CO2, H20 dan NH3. Sebaliknya dalam kondisi anaerob transfor masih berlangsung tidak begitu cepat, dan bahan organik tidak terurai dengan sempurna. Saat proses ini, terbentuk berbagai gas seperti CH4, H2S dan NH3.

4.    Keadaan yang dapat mempercepat penguraian bahan organik didalam tanah adalah saat kondisi tanah dalam keadaan yang baik (gembur), yang dapat dilihat dari struktur tanah, pH tanah dan banyaknya organisme yang hidup didalam tanah. Banyaknya organisme atau jasad hidup didalam tanah akan mempengaruhi proses penguraian bahan organik didalam tanah, yaitu semakin banyak organisme yang hidup didalam tanah maka akan semakin cepat penguraian bahan organik didalam tanah, begitupun sebaliknya. Seperti cacing tanah sangat aktif dalam penguraian (dekomposisi) serasah. Namun, banyaknya organisme yang hidup didalam tanah sangat dipengaruhi oleh struktur dan pH tanah yaitu apabila pH tanah terlalu asam atau basa dan struktur tanah terlalu padat.

5.  Ada 16 unsur hara yang terdapat pada tanaman murbei baik makro maupun mikro diantaranya Nitrogen (N), Pospat (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur (S), Klor (Cl), Besi(Fe), Mangan (Ma), Tembaga (Cu), Boron (B), Molibdenum (Mo), dan Seng (Zn). Sedangkan untuk jumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman murbei menurut petunjuk teknis di Jepang dalam Atmosoedarjo, 2000:51, jumlah N yang diperlukan untuk 0,1 ha adalah 30 kg, jumlah P disarankan ada sebanyak 14 – 16 kg dan K 12 – 20 kg dalam bentuk pupuk kimia. Namun, jumlah tersebut tegantung kepada tipe tanah dan topografi.

Jumat, 21 Juni 2013


Kita tidak dapat mencukupi pangan dunia hari ini dengan pertanian kemarin dan kita tidak dapat mencukupi pangan dunia besok dengan pertanian hari ini
(Lord May Robrert, 2002, cit. Ferry and Gatehouse, 2009)  



PEMUPUKAN DAN KONDISI TANAH


     

       Definisi Pupuk dan Pemupukan
Menurut Marsono dan Paulus Sigit (2001) bagi tanaman, pupuk sama seperti makanan pada manusia. Oleh tanaman, pupuk digunakan untuk hidup, tumbuh dan berkembang. Jika dalam makanan manusia dikenal ada istilah gizi maka dalam pupuk dikenal dengan nama zat atau unsur hara. Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan sehingga tanaman mampu berproduksi dengan baik. Material pupuk dapat berupa bahan organik ataupun anorganik. Sedangkan pemupukan adalah menambahkan material dalam hal ini unsur hara yang dibutuhkan tanaman. 

Definisi Tanah
Tanah adalah bagian permukaan bumi yang terdiri dari mineral dan bahan organik. Tanah sangat penting peranannya bagi semua kehidupan di bumi, karena tanah mampu mendukung kehidupan tumbuhan di mana tumbuhan menyediakan makanan dan oksigen kemudian menyerap karbon dioksida dan nitrogen. Bagi pertanian tanah merupakan asas yang sangat penting dalam menjalankan penanaman berbagai tanaman, seperti tanaman pangan, tanaman industri dan sebagainya. Menurut Kemas Ali Hanafiah (2005:4), tanah pada masa kini sebagai media tumbuh tanaman didefinisikan sebagai :

“Lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh-berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan penyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti N, P, K, Ca, Mg, S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl dan lain-lain); dan secara biologis berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasiaktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman”, yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanaman untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan, obat-obatan, industri perkebunan, maupun kehutanan”.

Pemupukan dan Kondisi Tanah
Pemupukan mempunyai maksud mencapai kondisi dimana tanah memungkinkan tanaman untuk tumbuh dengan optimal. Pertumbuhan tanaman tidak saja tergantung dari ketersediaan berbagai unsur hara dalam jumlah yang cukup, tetapi juga dari persyaratan lain seperti struktur tanah dan kondisi derajat keasaman tanah atau pH tanah. Pemupukan ikut mempengaruhi keadaan itu. Keadaan tanah yang baik akan memudahkan tanaman menyerap unsur hara yang ada didalam tanah melalui pertumbuhan akarnya yang lebih kuat, dibanding jika pertumbuhannya kurang baik. Dalam hal ini maka pemupukan dengan sendirinya akan memberikan hasil yang lebih baik.

Pemupukan dan Struktur Tanah
Menurut Kemas Ali Hanafiah (2005:69), struktur tanah merupakan kenampakan bentuk atau susunan partikel-partikel primer tanah (pasir, debu dan liat individual) hingga partikel-partikel sekunder (hubungan partikel-partikel primer yang disebut ped (gumpalan) yang membentuk agregat). De Boodt (1978) menyatakan bahwa struktur tanah berpengaruh terhadap gerakan air, gerakan udara, suhu tanah dan hambatan mekanik perkecambahan biji, serta penetrasi akar tanaman. Oleh sebab itu, tanah yang berstruktur baik akan mempunyai kondisi drainase dan aerasi yang baik pula, sehingga akan memudahkan sistem perakaran tanaman untuk berpenetrasi dan mengabsopsi hara dan air, sehingga pertumbuhan dan produksi menjadi lebih baik. Hal ini terbukti dari percobaan pemupukan untuk tanaman jagung, bahwa produksi jagung pada tanah tanpa pupuk tetapi beragregat baik ternyata 2,3 kali lebih besar dibandingkan dengan produksi pada tanah beragregat buruk yang diberi pupuk. Pada tanah yang digunakan untuk bercocok tanam, penaburan pupuk fosfat pada musim semi dapat mengakibatkan struktur tanah menjadi rusak karena fosfat di dalam tanah kurang bergerak, sehingga pemupukan menjadi kurang efektif.

Kerusakan struktur tanah diawali dengan penurunan kestabilan agregat tanah sebagai akibat dari pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan. Penurunan kestabilan agregat tanah berkaitan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran dan mikroorganisme tanah. Penurunan ketiga agen pengikat tanah tersebut, selain menyebabkan agregat tanah relatif mudah pecah juga menyebabkan terbentuknya kerak di permukaan tanah (soil crusting) yang mempunyai sifat padat dan keras bila kering. Pada saat hujan turun, kerak yang terbentuk di permukaan tanah juga menyebabkan penyumbatan pori tanah. Akibat proses penyumbatan pori tanah ini, porositas tanah, distribusi pori tanah, dan kemampuan tanah untuk mengalirkan air mengalami penurunan dan limpasan permukaan akan meningkat (Suprayogo et al., 2001).

Firmansyah (2003) menyatakan bahwa penggunaan gambut terhumifikasi rendah dengan BD 0,10 Mg m-3 memilki pengaruh lebih besar daripada gambut terhumifikasi tinggi dengan BD 0,29 Mg m-3 dalam menurunkan kompaktibilitas tanah. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa bahan organik lebih efektif untuk tanah dengan kompaktilitas tinggi, ketahanan penetrsai maksimum tanah liat menurun dari 0,64 menjadi 0,30 Mpa, dan pada tanah berpasir meningkat dari 0,64 menjadi 1,08 Mpa.

Pemberian bahan tersebut dapat memperbaiki sifat fisik tanah berupa peningkatan total ruang pori, perbaikan aerasi tanah, pori air tersedia, permeabilitas tanah dan menurunnya ketahanan penetrasi. Pemberian dosis 20 Mg/ha dapat meningkatkan aerasi diatas 12%, sedangkan pada takaran 10 Mg/ha dapat memperbaiki ketahanan penetrasi (Firmansyah, 2003).

Pemupukan dan Derajat Keasaman Tanah
Keasaman atau pH (Potential of hidrogen) adalah nilai pada skala 0-14 yang mengambarkan jumlah relatif ion H+ terdapat ion OH- didalam larutan tanah. Larutan tanah disebut bereaksi asam jika nilai pH berada pada kisaran 0-6, artinya larutan tanah  mengandung ion H+ lebih besar daripada ion OH- sebaliknya jika jumlah ion H+ dalam lautan tanah lebih kecil daripada ion OH- larutan tanah disebut bereaksi basa (alkali) atau miliki pH 8-14. Tanah bersifat asam karena berkurangnya kation kalsium, Magnesium, Kalium dan Natrium. Unsur-unsur tersebut terbawa oleh aliran air kelapisan tanah yang lebih bawah atau hilang diserap oleh tanaman (Hendra, 2008).

Keasaman atau kebasaan tanah bersumber dari sejumlah senyawa. Air adalah sumber kecil ion H karena disosiasi molekul H2O lemah. Sumber – sumber besar adalah asam – asam organik dan anorganik. Proses yang menghasilkan ion H+ adalah respirasi akar dan jasad penghuni tanah, perombakan bahan organik, pelarutan CO2 udara dalam lengas tanah, hidrolisis Al, nitrifikasi, oksidasi N2, oksidasi S, dan pelarutan, serta penguraian pupuk kimia. Sedangkan sumber – sumber kebasaan adalah garam–garam basa, amonifikasi, dan hasil batuan basa, ultrabasa.  

Reaksi tanah mempengaruhi dekomposisi bahan organik melalui pengaruhnya terhadap ketersediaan hara-hara yang dibutuhkan mikrobia. Umumnya mikrobia berkembang dan aktif pada pH netral – alkalis (6,5 – 8,5) (Parr, 1978 dalam Kemas Ali, 2005:178), sedangkan proses mineralisasi dan nitrifikasi optimum pada pH sekitar 7,0 (Brady, 1984 dalam Kemas Ali, 2005:178). Menurut Kussow (1971), mikrobia ammonifikasi tidak begitu sensitif terhadap perubahan pH, sedangkan mikrobia nitrifikasi aktif pada pH 5-8. Pada pH dibawah 5, ammonium lebih banyak terakumulasi dalam tanah, sedangkan pada pH 7 ke atas terjadi reduksi menjadi gas ammoniak.

Menurut Kemas Ali Hanafiah (2005:178:179), pada pH tanah 5,5 – 7,5 bakteri berkembang lebih baik, sedangkan pada pH diatas 7 aktinomisetes yang lebih berkembang. Fungi kurang sensitif terhadap pH, dapat berkembang baik pada pH 3,5 – 5,5 dan diatas 7,5.

Menurut Kemas Ali Hanafiah (2005:159), untuk penanaman pada tanah yang pHnya tidak sesuai perlu dilakukan perbaikan pH untuk mencapai pH ideal. Pada tanah alkalin, penurunan pH dapat dilakukan dengan penambatan sulfur atau bahan bersulfur, agar sulfur yang dilapas membentuk asam sulfur pemasaman tanah, sedangkan pada tanah peningkatan pH dan sekaligus peningkatan kejenuhan basa dapat dilakukan dengan pengapuran. Kapur karbonat atau kalsit (CaCO3) (dipasar dukenal dengan ”Kaptan”), jika terhidrolisis akan menghasilkan iom hidroksil penaik pH dan kation Ca peningkat kejenuhan basa.

Secara umum pengapuran tanah itu sendiri betujuan untuk meningkatkan pH tanah dan kejenuhan basa, agar ketersediaan hara bagi tanaman meningkat dan potensi toksik dari unsur mikro (seperti Al) menjadi tertekan. sehingga, dengan membaiknya sifat kimiawi tanah, maka aktivitas mikrobia dalam penyediaan hara dan zat perangsang tumbuh juga membaik, sehingga secara akumulatif akan menghasilkan pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimum (Kemas Ali, 2005:159:160). 

Pemupukan dan Potensi Pengikat Tanah terhadap Unsur Hara Tanaman
Pemberian bahan organik, seperti pupuk kandang dan pupuk hijau pada tanah dapat meningkatkan ketersediaan P dan unsur lainnya. Hal tersebut terjadi karena saat dekomposisi bahan organik terjadi proses mineralisasi dari bahan organik yang mudah terurai, sehingga akan menyumbangkan sejumlah ion-ion hara tersedia. Selama proses dekomposisi, sejumlah hara tersedia akan diakumulasikan ke dalam sel-sel mikrobia, yang apabila mikrobia ini mati mudah dimineralisasikan kembali, sehingga menghindarkan ion-ion hara ini dari pelindian oleh aliran massa. Selain itu, senyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai melalui proses humifikasi akan menghasilkan humus tanah yang terutama berperan secara koloidal. Koloidal organik ini melalui muatan listriknya dapat meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar ketimbang koloidal anorganik, sehingga menyebabkan ketersediaan basa-basa meningkat, dan melalui kemampuannya mencengkam koloid/mineral oksida bermuatan positif dan kation-kation terutama Al dan Fe yang reaktif, menyebabkan fiksasi P tanah menjadi ternetralisir. Serta adanya asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik yang mampu melarutkan P dan unsur lainnya dari pengikatnya, menghasilkan ketersediaan dan efisiensi pemupukan P dan hara lainnya (Stevenson, 1982 dalam Kemas Ali, 2005:180:181).

Pengaruh bahan organik terhadap tanah dan kemudian terhadap tanaman tergantung pada laju proses dekomposisinya. Namun, laju dekomposisi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor bahan organik dan faktor tanah. Faktor bahan organik meliputi komposisi kimiawi, perbandinga C/N, kadar lignin dan ukuran bahan, sedangkan faktor tanah meliputi temperatur, kelembaban, tekstur, struktur, suplai oksigen dan reaksi tanah, ketersediaan hara terutama N, P, K dan S (Parr, 1978 dalam Kemas Ali, 2005:176).

Jumlah bahan organik di dalam tanah dapat berkurang hingga 35% untuk tanah yang ditanami secara terus menerus dibandingkan dengan tanah yang belum ditanami atau belum dijamah. Untuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah agar tidak menurun, diperlukan minimal 8 – 9 ton per ha bahan organik tiap tahunnya (Suryani, 2007).

Pada tanah berKB (kejenuhan basa) tinggi dan didominasi oleh koloid bermuatan permanen, pengapuran secara kimiawi akan meningkatkan pH dan kadar cadd, sedangkan secara biologis akan meningkatkan fiksasi N-bebas baik secara simbiotik maupun nonsimbiotik dan aktivitas mikroiologis lainnya. Namun, apabila pengapuran dilakukan secara berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif berupa penurunan ketersediaan Zn dan Mn, serta meningkatkan kelarutan Mo hingga ke tingkat toksik. Sedangkan pada tanah berKB rendah dan didominasi koloid bermuatan tak permanen, pengaruh positif pengapuran berupa peningkatan ketersediaan P, Cadd (kalsium dapat dipertukarkan), Mgdd (magnesium dapat dipertukarkan) dan aktivitas mikrobiologis, serta menonaktifkan Al dan Mn sehingga potensi toksisitasnya ternetralisasi. Namun apabila berlebihan, pengapuran dapat berdampak pada penurunan ketersediaan Zn, Mn, Cu dan B yang dapat menyebabkan tanaman menjadi defisiensi keempat unsur ini, serta dapat mengalami keracunan Mo (Kemas Ali, 2005:160:161).

Menurut Kemas Ali Hanafiah (2005:150), makin tinggi nilai KTA berarti makin tinggi daya fiksasi tanah terhadap anion, sehingga pemberian pupuk pelepasan anion seperti TSP (H2PO4-), amonium nitrat (NO3-) dan amonium sulfat (SO42-), makin tidak efisien karena makin tidak tersedia bagi tanaman. Akibat lainnya, dengan makin tingginya nilai KTA daya tolak terhadap kation-kation juga makin tinggi, pemupukan pupupuk pelepas kation seperti KCL (K+), kalsit (Ca2+) dan dolomit (Ca2+ dan Mg2+) juga makin tidak efisien karena mudah tercuci/hilang dari tanah. Pemupukan fosfat (TSP) pada tanah berliat oksida menyebabkan sebagian besar hara-pupuk menjadi tidak tersedia bagi tanaman.

SUMBER

Edowart Sitorus, 2011. Pupuk dan Cara Pemupukan. . [Online]. Tersedia: http://edowartblogspotscom.blogspot.com/2011/09/pupuk-dan-cara-pemupukan.html[11 April 2013].
Mirsadiq, 2012. Tanah. [Online]. Tersedia: http://mirsadiq.wordpress.com/2012/09/12/tanah-soil/. [11 April 2013].
Hanafiah Kemas Ali, 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Syamsulhuda, 2011. Degradasi Tanah. [Online]. Tersedia: http://syamsulhuda-fst09.web.unair.ac.id/artikel_detail-40790-kuliah-DEGRADASI%20TANAH%20%20.html. [11 April 2013].